Berwirausaha itu Mudah

IAI AL KHOZINY SIDOARJO

Berwirausaha itu Mudah

Oleh Dr. H. Hartoyo, M.Si

Dekan Fakultas Syari’ah

Upaya Merubah Mind Set

Sebuah ungkapan provokatif disampaikan Anhar Gonggong,[1] bahwa berani menjadi entrepeneur berarti berani menjadi kaya ! Kalimat ini bagi saya sudah terlambat 35 tahun, artinya kalau itu saya dengar 35 tahun yang lalu, saya sudah jadi wirausahawan. Fenomena yang ada di sekitar kita betapa jauh lebih besarnya pencari kerja dibanding lapangan kerja yang tersedia. Keadaan seperti itu amat perlu untuk kita cermati (kalimat akademisi yang mentereng adalah dianalisis) lalu kita cari alternatif jalan keluarnya.[2] Karena itu mari kita berusaha mencoba mengubah mind set (maaf, ini juga istilah ilmiah dengan arti pandangan) dari job seeker (mencari pekerjaan) menjadi job maker (membuat atau menciptakan lapangan kerja). Menciptakan lapangan kerja baru ini sering diistilahkan dengan ‘Wirausaha’, artinya berani berusaha, yang dalam istilah kerennya disebut entrepeneur.

Sebenarnya telah dilakukan banyak kegiatan untuk menumbuhkan jiwa berwirausaha. Hal itu banyak dilakukan di masyarakat, di lingkungan RT/RW, di desa/kelurahan, di sekolah-sekolah, di SMA/MA, di SMP/MTs, di SD/MI, bahkan dalam jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD).

Mengapa Perlu Berwirausaha?

Mengapa kita perlu berwirausaha? Sebuah pertanyaan yang telah dijawab oleh Arif Sugiono dan Kurnianing Isololipu[3] dengan beberapa alasan, sebagai berikut:

  1. Dinamika lingkungan global, regional, maupun lokal yang semakin dinamis, mendorong terjadinya integrasi kekuatan ekonomi. Timbul MEE, Asean Free Trade Areal (AFTA), dan sebagainya. Hal itu membuat kompetisi antara negara makin meningkat.[4]
  2. Berdasar hasil survey ternyata ada korelasi yang signifikan antara jumlah entrepeneur dengan tingkat kemakmuran suatu negara. Semakin tinggi rasio penduduk yang berwirausaha, semakin tinggi tingkat kemakmurannya.
  3. Mengurangi angka pengangguran. Tingginya angka pengangguran karena tidak seimbangnya antara jumlah pencari kerja dengan lapangan kerja yang tersedia;
  4. Dengan berwirausaha dapat mengoptimalkan penggunaan Sumber Daya Alam melalui penciptaan nilai tambah, contoh kasus dengan adanya ‘beras Cianjur’ made in Vietnam yang dijual di pasar-pasar tanah suci.
  5. Berwirausaha dapat mengurangi angka kemiskinan, hal itu karena perilaku wirausaha akan mendorong generasi muda memiliki kemandirian dengan aktivitas usaha yang kreatif, inovatif dan tidak kenal menyerah.

Pengertian Kewirausahaan

Kata kewirausahaan berasal dari kata dasar wirausaha. Wirausaha terdiri dari dua kata, pertama, wira yang berarti ‘kesatria, pahlawan, pejuang, unggul, gagah berani. Kedua, usaha yang berarti bekerja atau melakukan sesuatu.[5] Disebutkan dalam Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil, nomor 961/KEP/M/XI/1995,[6] bahwa:

  1. Wirausahawan adalah orang yang mempunyai semangat, sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan;
  2. Kewirausahaan merupakan semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Sering juga istilah wirausaha dinamakan ‘bisnis’, yang diartikan sebagai usaha atau urusan yang mendatangkan keuntungan atau bisa meningkatkan kualitas dalam kehidupan kita. Untuk mewadahi kegiatan tersebut dibangun sebuah organisasi yang disebut dengan istilah perusahaan. Perlu dipahami bahwa perusahaan tidak harus diartikan sebagai usaha yang besar. Bahkan perusahaan raksasa sekarang ini, dulunya adalah perusahaan kecil yang mungkin saja diremehkan orang.

Kewirausahaan sering diistilahkan entrepeneur, yang pertama kali diungkapkan oleh ekonom Perancis Richard Cantillon sekitar tahun 1755. Entrepeneur memang berasal dari bahasa Perancis, berakar dari kata ‘entreprenant’ yang berarti giat, mau berusaha, berani, penuh tantangan.[7]

Sifat Dasar Kewirausahaan

Perilaku seseorang pada umumnya dipengaruhi oleh sifat dan wataknya. Jika seseorang mempunyai sifat yang baik, tentu perilakunya akan mencerminkan sifat dan wataknya. Di antara sifat yang baik adalah berpikir positif, bekerja keras, jujur dan suka berempati kepada sesama. Maka seorang wirausahawan dengan sifat-sifat seperti itu akan gampang mencapai kesuksesan.

Meredith,[8] mengungkapkan ciri dan watak kewirausahaan sebagai berikut: 1) Percaya diri, optimisme, dan tidak punya rasa ketergantungan; 2) Berorientasi pada tugas dan hasil; 3) Berani mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan; 4) Sifat kepemimpinan dan tidak tabu dengan saran dan kritik; 5) Banyak ide orisinil, kreatif, inovatif dan fleksibel; 6) Berorientasi ke depan dengan prespektif yang baik dan penuh harapan kesuksesan.

Ippho Santosa dan kawan-kawan,[9] memberikan saran kepada para wirausahawan, pelaku bisnis, entrepeneur agarmeneladani Rasulullah SAW, antara lain: 1) Memulai dengan yang ‘kanan’ dalam arti tetapkan dulu visi dan misi[10] (kanan), baru diiringi taktik dan strategi (kiri); 2) Mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik, dengan pengertian penuh dengan sifat keteladanan; 3) Memantapkan nilai-nilai entrepeneurship dalam diri sendiri dan berusaha mensosialisasikan nilai-nilai tersebut kepada para generasi penerus; 4) Harta yang kita peroleh dari hasil wirausaha kita niatkan sebagai bekal untuk beribadah kepada-Nya, dan sebagian kita gunakan untuk kemaslahatan umat; 5) Berlaku jujur dalam berbisnis dan tidak menipu atau curang; 6) Senantiasa membuat orang senang dengan memberikan pelayanan yang memuaskan bagi semua orang; 7) Selalu empati kepada semua orang []


[1] Sugiono, Arif dan Isololipu, Kurnianing, 2010, Berani Hidup Kaya Jurus Jitu Menjadi Entrepeneur Andal, Yogyakarta: Pustaka Timur, hlm. xii

[2] Secara spesifik penulis memberikan apresiasi yang tinggi dan berterima kasih kepada Bapak Ahmad Suprianto, dosen KPI IAI Al-Khoziny yang banyak membuat terobosan untuk menyadarkan kepada kita betapa banyak peluang usaha yang bisa dilakukan. Seperti membuka usaha ‘foto studio’ dengan spesialisasi ‘pre wed’, foto both (maaf, untuk istilah ini mendengar saja, tidak tahu persis tulisannya) dan ‘seabrek’ (ini istilah tidak ilmiyah) lainnya.

[3] Sugiono dan Isololipu, op. Cit, hlm. 8

[4] Dengan SDA yang melimpah harus membuat kita bertekad menjadi pemeran utama dalam persaingan global maupun regional. Syarat utamanya adalah menumbuhkan SDM yang kreatif dan inovatif agar dapat memberi nilai tambah terhadap SDA yang melimpah itu. 

[5] Sugiono dan Isololipu, op. Cit, hlm. 11

[6] Ibid

[7] Ibid, hlm. 12

[8] Ibid, hlm. 19

[9] Santosa, Ippho dkk, 2008, Muhammad Sebagai Pedagang, Jakarta: Elex Media Komputindo, hlm. xi

[10] Visi dan misi dalam pengertian riil, misalnya pada usaha cuci motor ‘Kilap’ dengan visi: “Menjadi penyedia jasa cuci motor terbaik yang dapat memberikan kepuasan kepada semua pelanggan” Sedang misinya adalah: “1) Memberikan layanan yang ramah kepada semua pelanggan; 2) Mengutamakan kualitas kebersihan hasil pencucian motor; 3) Menyediakan ruang tunggu yang nyaman; 4) Menjaga keamanan kendaraan pelanggan dari kerusakan; 5) Membuat inovasi baru terutama dalam teknologi bahan dan perlengkapan; 6) Membantu program pemerintah ‘green n clean’