Putihnya Kitab Kuning

IAI AL KHOZINY SIDOARJO

Putihnya Kitab Kuning

Oleh: Ahmad Efendy (Alumni IAI Al Khoziny )
Istilah kitab kuning sudah tidak asing lagi bagi para santri dan kiai yang pernah mengeyam pendidikan di pesantren terutama pesantren yang ada nilai kesalafannya.kitab tersebut sudah diajarkan sejak zaman dahulu oleh pendiri-pendiri Islam di Indonesia. 
Kitab kuning adalah sebuah istilah yang disematkan kepada kitab kitab yang berbahasa Arab, yang biasa digunakan oleh beberapa pesantren atau madrasah Diniyah sebagai bahan pelajaran bahkan lebih jauh lagi dijadikan sebagai satu satunya kurikulum di pesantren dengan istilah Kurikulum Berbasis Kitab Kuning (KBK). Dinamakan kitab kuning karena kertasnya berwarna kuning.Sebenarnya warna kuning itu hanya suatu kebetulan saja, lantaran zaman dahulu barang kali belum ada jenis kertas seperti zaman sekarang yang putih warnanya.

Mungkin di masa lalu yang tersedia memang itu saja. Juga dicetak dengan alat cetak sederhana, dengan tata letak dan lay-out yang monoton, kaku dan cenderung kurang nyaman dibaca. Bahkan kitab kitab itu seringkali tidak dijilid, melainkan hanya dilipat saja dan diberi cover dengan kertas yang lebih tebal (kurasan). 
Untuk sekarang, kitab kitab tersebut sudah banyak yang dicetak dengan memakai kertas putih dan dijilid dengan rapi. Penampilannya tidak kalah menariknya dengan penampilan buku-buku yang selain memakai bahasa Arab, seperti kitab kitab yang dicetak dari percetakan Dar al Kotob Al Ilmiyah, Dar al Fikr Beirut Lebanon dan Al Haramain Surabaya. kitab baru yang sudah masuk dalam kategori kitab kuning contohnya “Fiqhul Islam” terbitan 1995. 
Sedangkan kitab kuning tulisan ulama Indonesia di antaranya kitab “Sirojul Tholibbin”. Kitab yang memperjelas kitab “Minhajul Abidin” karya Imam al-Ghazali itu ditulis Syaikh Ikhsan dari Pondok Pesantren Jampes, Kediri “Sirojul Tholibbin” hingga kini menjadi bacaan wajib di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Contoh kitab kuning dari ulama Indonesia lainnya adalah kitab “Sullamut Taufiq” karya Imam Nawawi dari Banten, yang bertarikh 1358. Istilah kitab kuning bertujuan untuk memudahkan orang dalam menyebut.
Sebutan “kitab kuning” ini adalah ciri khas Indonesia. Ada juga yang menyebutnya, “kitab gundul”. Ini karena disandarkan pada kata per kata dalam kitab yang tidak berharakat, bahkan tidak ada tanda baca dan maknanya sama sekali. Tidak seperti layaknya kitab kitab sekarang yang sudah banyak diberi makna dan harakat sampai catatan pinggirnya. Istilah “kitab kuno” juga sebutan lain untuk kitab kuning. Sebutan ini mengemuka karena rentangan waktu yang begitu jauh sejak kemunculannya dibanding sekarang. Karena saking kunonya, model kitab dan gaya penulisannya kini jarang lagi digunakan kecuali di pesantren yang masih kental dengan nilai-nilai kesalafan. Meski atas dasar rentang waktu yang begitu jauh, ada yang menyebutnya dengan sebutan “kitab klasik” (al-kutub al-qadimah).
Secara umum, kitab kuning dipahami oleh beberapa kalangan sebagai kitab referensi keagamaan yang merupakan produk pemikiran para ulama pada masa lampau (al-salaf) yang ditulis dengan format khas pra-modern, sebelum abad ke-17-an M.Untuk lebih detail lagi, kitab kuning dapat didefinisikan dengan tiga pengertian: Pertama kitab yang ditulis oleh ulama-ulama asing, tetapi secara turun-temurun menjadi referensi yang dipedomani oleh para ulama Indonesia. Kedua, ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang independen. Dan ketiga, ditulis ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama asing. 
Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya di Timur Tengah, dikenal dua istilah untuk menyebut kategori karya-karya ilmiah berdasarkan kurun atau format penulisannya. Kategori pertama disebut kitab kitab klasik (al-kutub al-qadimah), sedangkan kategori kedua disebut kitab kitab Modern (al-kutub al-‘ashriyah). Perbedaan yang pertama dari yang kedua dicirikan, antara lain, oleh cara penulisannya yang tidak mengenal pemberhentian, tanda baca (punctuation), dan kesan bahasanya yang berat, klasik, dan tanpa syakl (harakat).
Menurut hemat penulis, meski sudah ribuan kitab kuning tercetak dengan warna putih, namun penamaan kitab klasik dengan kitab kuning masih relefan adanya, tidak merubah identitas kitab itu sendiri sebagai karya hebat ulama’ salaf.